Selasa, 29 Maret 2011

"Dengan Kata Berbijak Nyata, Dengan Harta Berbagi Bahagia"

( Pagi hari ketika Aksan sedang duduk sambil makan,
  datang seorang Pak Tua dari Kejauhan dengan Seraya Ucapan )

"Minta Sedekahnya Nak, sudah dua hari ini Bapak belum makan"
- Tidak ada Pak, ini saja saya lagi makan, Bapak malah datang,
  mengganggu selera makan orang saja, sudah pergi sana Pak.
- Tolong Nak, Bapak sangat lapar sekali.
- Memangnya Bapak tidak punya Anak apa ?, tanggung jawab mereka sebagai anak dimana ?,
  masa orang tuanya ditelantarkan seperti ini, sudah sana pergi Pak !.

( Keesokan harinya di waktu yang sama, Bapak Tua itu melintas dan
  berdiri tepat di depan rumah Akmal )

"Minta Sedekahnya Nak, sudah tiga hari ini Bapak belum makan"
- Sebentar ya Pak, saya ambilkan dulu makanan di Dapur.

( Tanpa sepengetahuan Akmal, ternyata diam - diam Aksan memperhatikan )

- Itu kan Bapak Tua yang kemarin meminta - minta di rumah ku,
  sekarang meminta - minta di rumah Akmal, mau apa tuch si Akmal ?, hmm,,,,

( Dengan rasa Penasaran yang sangat, akhirnya Aksan memutuskan untuk mencari tahu )

- Oh, ceritanya ada orang yang mau memberikan Sedekah nich ?,
  ech, ada si Bapak yang kemarin, masih belum makan Pak ?,
  masih mencari makanan dari orang Pak ?.
- Astaghfirullah, Aksan !, sudah cukup, Bapak Tua ini tidak meminta kepadamu,
  lalu kenapa kamu seperti Cacing Kepanasan saja, datang - datang bicara tidak karuan,
  tidak malu kamu dengan Latar Pendidikan ?,
  jika memang kamu tidak mau Memberi jangan lebih banyak Menggurui,
  satu hal yang perlu kamu ketahui, aku bukan orang yang seperti kamu tuduhkan,
  silahkan angkat kaki kamu dari Pelataran rumah ku !.
- Baik, dasar orang Miskin belagu, sok banyak uang !

( Dengan Emosi yang sudah berkecamuk, hampir saja Akmal menghajar Aksan,
  dengan sigap, Bapak Tua Peminta menenangkan Akmal )

- Sabar Nak, "Inallaha Ma'asobirin" "Sesungguhnya Allah itu berserta orang - orang yang sabar",
  jiwamu hampir sepenuhnya dikuasai Syaitan, dia akan benar - benar tertawa jika tadi kamu menghajar Aksan,
  biarkanlah anak itu, biarkan ia dengan sesuka Hatinya, Bapak sudah melihat Keikhlasan dan Ketulusan kamu,
  kamu orang baik, jangan sampai karena perihal tadi Nilai Amalan mu menjadi Rusak.
- Astaghfirullah,,,, Astaghfirullah,,,, Astaghfirullah,,,,
  maafin Akmal Pak, Akmal tersulut Emosi, Akmal hanya tidak suka dengan Sikap dan Perilakunya.

( Hanya dengan Senyuman ^_^, lantas Bapak Tua Peminta membalas gurauan Akmal )

- Oh ya, Bapak kan belum minum sehabis makan tadi, sebentar ya Pak, saya ambilkan minum dulu

( Betapa terkejutnya Akmal setelah tahu bahwa Pak Tua Peminta sudah tidak ada,
  kesana kemari sudah dicarinya, tapi tetap tidak ada, dengan Keheranan yang sangat Akmal didera )

( Lalu, keesokan Harinya, di Rumah Aksan banyak orang Mengerumuninya )

"Tidak,,,, Tidak,,,, Tidak,,,, jangan bawa Harta Benda milik saya Pak,
  lalu, kenapa Rumah kami juga disita ? kenapa Pak ?"
- Maaf, dikarenakan Orang Tua anda Terlilit Hutang dengan Besarnya,
  lalu Orang Tua anda berniat Meminjam Dana dari kami Semua,
  dengan Masa Tempo, lalu kami menyetujui Peminjamannya,
  sekarang, sudah Jatuh Masa Temponya, Orang Tua anda tidak bisa Melunasinya,
  jadi, dengan terpaksa, kami menyita Harta Benda berserta rumahnya, maaf.
"Dengan Kata Berbijak Nyata"
"Dengan Harta Berbagi Bahagia"

Sabtu, 26 Maret 2011

"Kasih Sayang Aya bersama Bunda"

( Hujan turun pertanda riang hati Aya, karena Pelataran Halaman rumahnya ditumbuhi Bunga. Begitu antusias Aya dalam merawatnya, dari Benih hingga tumbuh Indah Penuh Warna )

-     Bunda, Bunda lihat deh, Bunga - bunga Aya sudah bermekaran, bagus - bagus Bunda,
      ayo Bun sama - sama kita lihat.
-     Apaan sich kamu Ya, Bunda capai nich, kamu malah ajak Bunda lihat Bunga.
-     Tapi Bun, Bunga - bunganya bagus semua, ayo dong Bun ?.
-     Sudah, Bunda bilang capai ya capai, kamu mengerti tidak sich Ya ?,
      Bunda mau Istirahat, jangan ganggu Bunda.

( Dalam Hati yang terdalam; "Bunda kenapa ?, apa Bunda ada masalah ?,
 apa ada kata - kataku yang menyakitkan Bunda ? )

-     Selamat Pagi Bunda, Aya lihat Bunda tidur pulas sekali,
      tadinya Aya mau bangunkan Bunda, tapi Aya takut Bunda jadi terganggu,
      oh ya, Aya juga sudah siapkan sarapan buat Bunda, sudah sana, ganggu Bunda saja,
-     sana kalau kamu memang mau berangkat ke sekolah.

( Ada apalagi ?, kenapa sikap Bunda seperti ini ?, bertanya Aya dalam Hati kembali )

-     Kalau begitu, Aya berangkat ke sekolah dulu ya Bun,
      Assalamu'alaikum,Wr,Wb,,,,
-     Kum salam, sudah sana.

( Pergi Aya menuju Sekolah dengan Hati berselimut Tanya )

( Keesokan harinya dikala Aya berada di rumah saat liburan sekolah,
 Aya menyempatkan diri menyiram Bunga kesukaannya )

Datang Bibi menghampiri seraya berkata;
-     Non Aya yang cantik lagi nyiram Bunga ya ?,
      boleh tidak Bibi bantuin ?, wah, bagus – bagus sekali Non Bunganya !.
-     Bibi suka ?, bagus kan Bi ?, Aya suka sekali dengan bunga – bunga ini.
-     Tapi, Bibi perhatikan kok Non Aya banyak melamun seperti itu ?,
      ada apa Non ?, cerita atuh ke Bibi, jangan sungkan sama Bibi !.
-     Tidak ada apa – apa kok Bi, Aya baik – baik saja,
      oh ya, Bibi sudah sarapan ?, kalau belum, kita sarapan sama – sama yuk ?.
-     Bibi sudah kok Non, tapi pasti Bibi temenin Non Aya.
-     Makasih ya Bi.
-     Sama – sama Non, ya sudah, kalau begitu menyiram Bunganya kita sudahi dulu,
      kan Non Aya mau sarapan.

( Senyum merona terpancar dari wajah Aya ke arah Bibi, ^_^,
  dalam benak penuh harap: “moga Bunda seperti Bibi yang tak sungkan
  dengan Semerbak Harumnya Bunga” )        

( Sampai pada suatu hari, Bunda lelap dalam iring Mimpi,
  dalam mimpi Bunda berinteraki dengan Mata Hatinya )

-     Dalam nyata kau ini orang tuanya, panutannya, kebanggaannya,
      kasih sayangnya, lantas, mengapa dia Engkau sia – sia ?,
      dia membutuhkan perhatian yang lebih, hanya karena kau sibuk bekerja
      lalu dia engkau sia – sia ?, bergegas perbaiki kesalahan yang ada,
      jangan sampai setelah Allah mencabut nyawanya baru Engkau tersadar
      untuk meminta maaf kepada Jasad Kakunya !.

( Tidaakk, teriak Bunda sekencang dan sejadi – jadinya,
  Aya anakku, dia darah dagingku, ya, aku telah menyia – nyiakannya,
  dia jantung hatiku, dia kasih sayangku, aku harus menemuinya )

-     Bi, Bibi, Aya dimana Bi ?,
-     Non Aya lagi dipekarangan Bu, lagi menyiram Bunga kesayangannya
-     Oh, ya sudah kalau Bi, makasih ya.
-     Ya Bu, sama – sama

( Bergegas Bunda menemui Aya dipekarangan,
  bersama dengan Bunga – bunga indah kesayangan )  

-     Bunga, Aya tahu, sebenarnya Bunda tuh sayang bangat sama Aya,
      cuma memang belakangan hari ini, Bunda tampak beda, tampak berubah,
      tapi Aya tetap sayang bangat kok sama Bunda.

( Mendekat, Mendekap, lalu berucap )

-     Maafin Bunda, Bunda banyak salah sama Aya, Bunda telah menyiakan – nyiakan Aya,  
      maafin Bunda Aya, maafin Bunda, Bunda sayang bangat sama Aya.

( Aya tidak tega melihat titikan Air Mata di pipi Bunda,
  Bergegas Aya tuk menghapusnya )

-     Bunda, maafin Aya ya, coba Bunda lihat Bunga Kesayangan Aya,
      mereka tersenyum semua melihat ke arah kita Bunda.

 ( Dalam Tatap Bunda Mendekap seraya berucap;
   terima Ya Allah, terima kasih, dialah Putri Kesayanganku, dialah Kebanggaanku )
"Lihat Bunda, Semua Bunga Tersenyum Menatap ke arah Kita"
"Maafin Bunda, Bunda Sayang Bangat sama Aya"

Kamis, 24 Maret 2011

Hari Tuk Ayah & Ibu/Bunda (Orang Terkasih & Tercinta)

Tiada Satu Pembeda,
Hanya Terkait Dengan Sebuah Nama,
Ayah dan Ibu/Bunda,
Dua Insan Yang Sama,
Saling Membutuhkan Satu Dengan Lainnya,
Berdua Mendidik Anak Menjadi Hebatnya,
Dari Anak – anak Hingga Menjadi Dewasa,  
Kapan dan dimanapun Tetap Berusaha,
Anaklah Tumpuan Masa Depan Nantinya,
Bukan Bangga Tapi Haru Suka Cita,
Ada Hadist Nabi Berkata,
Syurga itu Ditelapak Kaki Ibu/Bunda,
Ada Pula Hari Ibu/Bunda,
Tapi Tidak Hari Ayahanda,
Apakah Memang Nyata Pembeda?,
Apakah Ayah Sedikit Jasanya?,
Apakah Karena Ayah Urutan Kedua?,
Moga Bukan Pembeda,  
Moga Boleh Diucap Secara Sama,
“Selamat Hari Ayah & Ibu/Bunda”

Ayah (Miss You)
Ibu (Love You)
Kalian Yang Kubangga, Kalian Yang Kucinta

"Kebanggaan Secara Nyata Tanpa Ada Unsur Kecurangan Didalamnya"

“Gempita Suara Menggelega,
Fanatisme Suporter Menggeliatnya,
Lapangan Bukit Jalil Tempat Berhelatnya,
Dua Kubu Yang Sama Besar Namanya,
Pertandingan Akbar Antara Indonesia & Malaysia,
Banyak Raut Tegang Saat Melihatnya,
Tanpa Disangka & Diduga,
Malaysia Sorak Sorai Bergembira,
Indonesia Haru Duka & Kecewa,
Malaysia Bangga Tapi Kebanggaan Yang Mana?,
Menggunakan Laser Sebagai Pembela,
Kemenangan Inti Yang Ingin Didapatnya,
Lalu, Dimana Letak Sportifnya?,
Walau Kalah Tapi Indonesia Bahagia (Memperlihatkan Pertandingan Secara Nyata Tanpa Ada Kecurangan Didalamnya)”
"Bangga & Jaya Dengan Olahraga"
"Sportiflah Maka Berjayalah"
"Olahraga Tidaklah Kekal Maka Janganlah Ada Hal Mencekal"

"Yah, Hadiah ini Untuk Ayah"

Dede : bu, ayah kemana ?, kok, dari tadi tidak kelihatan ?,,,,
Ibu    : sebentar lagi ayah balik kok sayang, memangnya ada apa ?, kok tiba – tiba kamu  bertanya seperti itu ?,,,,
Dede : dede udah siapkan hadiah kecil buat ayah bu, nanti pas ayah pulang, dede mau kasih ke ayah,,,,
Ibu    : hadiah apa sih de ?, kok dede tidak bilang ke ibu ?,,,,
Dede : maafin dede ya bu, maafin dede kalau tidak cerita ke ibu,,,,
Ibu    : oh, tidak apa – apa de, dede sudah siapkan dengan bungkus kadonya ?,,,,
Dede : belum bu, dede belum sempat menyiapkan bungkus kadonya,,,,
Ibu    : kalau begitu, biar ibu bantu dede bungkus kadonnya ya ?,,,,
Dede : benar bu ?, bener ibu mau bantuin dede ?,,,,
^_^  (senyum meronah tanda ibu mau membantu),,,,
Ibu    : memangnya dede mau kasih apa ke ayah ?,,,,
Dede : ini bu, sebuah jam tangan,,,,
Ibu    : ini kan mahal de ?, dari mana dede dapat uang ?,,,,
Dede : ini hasil tabungan dede selama ini bu, dede ingin sekali memberikan sesuatu hal yang berkesan untuk ayah,,,,
^_~ (haru mendengar ucapan dari anak semata wayangnya itu),,,,
kring,,,,kring,,,,kring,,,, (bunyi telepon di rumah seraya mendayu – dayu),,,,
Rumah Sakit  :  betul ini kediaman rumah Bpk. Muslim ?,,,,
Ibu                :  betul Pak, ini dengan siapa ya ?,,,,
Rumah Sakit  :  begini bu, suami ibu mendapat kecelakaan, sekarang beliau ada
                        di rumah sakit, kecelakaan itu membuat beliau kehilangan banyak darah bu, kami harap ibu lekas datang 
                        ke rumah sakit,,,,
Ibu                :  ~_~ (dengan hati cemas, resah dan gelisah),,,,
                        baik pak, saya segera menuju ke rumah sakit,,,,
Dede             :  bu, ayah kenapa ?, kok, belum datang juga ?, ayah ada masalah ya bu ?,,,,
Ibu                :  oh, tidak ada apa – apa kok de, mari kita sama – sama ke tempat ayah,
                         biar nanti disana kita kasih kado itu,,,,
Dede             :  ya bu,,,, (dengan hati diselubung Tanya),,,,
(akhirnya ibu dan dede tiba juga di rumah sakit),,,,
Ibu                :  bagaimana dengan suami saya Dok ?, beliau baik – baik saja kan ?,,,,
Rumah Sakit  :  maaf bu, kami sudah berusaha semampu kami, tetapi nyawa beliau tidak
                         dapat diselamatkan, beliau terlalu banyak mengeluarkan darah akibat kecelakaan itu, sekali lagi kami
                         minta maaf bu,,,,
~_~  ~_~   (bagai petir di siang hari, seakan duri tajam menusuk,
air mata ibu berlinang bercucuran), sambil bergegas ke tempat ayah,,,,
Dede             :  bu, ayah kok diam saja ?, ayah tidak tahu kita disni ya bu ?,
                         ayah sangat letih ya bu ?, dede sudah tidak sabar ingin memberikan
                         hadiah  ini sama ayah, mudah – mudahan ayah suka ya bu ?,,,,
(sambil menahan perihnya air mata tak kunjung reda),,,,
Ibu                :  ayah pasti tahu kalau kita disini, ayah pasti senang dengan hadiah itu,
                         ayah pasti bangga sama kamu de, ya sudah, kalau begitu, biarkan ayah
                         beristirahat ya de,,,, (dengan isak tangis di hati),,,,
"Yah, ini Hadiah dari Dede untuk Ayah"
"Moga Ayah suka dengan Hadiah yang sederhana ini"
"Dede sayang sama Ayah"
"Dede ingin sekali seharian ini sama Ayah"

"Maafin ade, hanya sapu tangan ini yang membasuh peluh keringat kakak"

Pagi sekali kakak bangun dari tidurnya, setelah itu segera ambil air tuk berwudhu
kemudian bergegas tuk sholat Shubuh, tak lupa membangunkan ku tuk ikut berjamaah,
lagi - lagi aku kedahuluan tuk bangun pagi.Tapi tidak mengapa, karena aku bisa sholat bersama kakak.
Adik    : "kak, hari ini kakak jualan koran kan ?,,,,
Kakak : "ya, memangnya kenapa, dik ?,,,,
Adik    : "boleh tidak kak aku ikut jualan koran ?,,,,
Kakak : "buat apa dik ?,,,, udah, kamu jagain rumah aja ya !,,,,
Adik    : "please, ade mohon sama kakak, untuk hari ini saja ?,,,,
Kakak : "emm, baiklah, tapi ade janji sama kakak, jangan banyak mengeluh ya ?,,,,
Ade    : "oke,,,,  ^_^ (dengan senyum riang kesemangatan)
Kakak : "Koran - koran" (suara pekikan kakak menawarkan dagangannya),,,,
Adik    : "Korannya - koran" (sahut ade ikut membantu),,,,
Sampai pagi menjelang siang, tak satu pun koran yang habis terjual, terik matahari pun kian terasa,
peluh keringat pun mulai bercucuran, dahi yang mulai mengerut sedikit.
Kakak : "dik, kamu lapar tidak ?,,,,
Adik    : "tidak kak, ade masih kuat, sepertinya kakak ya yang lapar ?,,,,
Kakak : "perut kakak memang sedikit perih de, tapi tidak mengapa, kamu kuat, kenapa kakak tidak ?,,,,
Dengan niatan ingin memberikan Sapu Tangan & Secarik Surat untuk kakak,
lalu adik bergegas pergi beberapa meter dari kakak.
Adik    : "sebentar ya kak, ade mau kebelakang dulu, mau beli minum buat kakak sama ade,,,,
Kakak : "oh, jangan jauh - jauh ya de,,,,
Ade    : "ok, ^_^
Niatan ade itu tanpa sepengetahuan kakak, setelah jarak yang beberapa meter,
lalu ade mengeluarkan Sapu Tangan berserta Secarik Surat yang dibungkus didalamnya.
Acchh,,,, (sebuah teriakan terdengar dari kejauhan meter itu), mendengar seolah itu suara ade,
kakak lalu bergegas lari ke arah tersebut, didapati seorang anak laki - laki terkapar bersimbah darah,
lantaran mobil yang melaju dengan sangat kencang telah menabraknya.
Kakak : "Astaghfirullah, ya Allah, de, kenapa badan ade berlumuran darah ?,
              apa mobil tadi yang telah menabrak de ?,
              kakak minta bantuan ke orang ya buat bawa de ke rumah sakit ?,,,,
Dengan tangan sedikit memegang & menahan kakak.
Ade    : "kak, tidak apa - apa, biarkan saja de disini dulu, de mau bersama kakak,
              de mau memberikan bungkusan ini sama kakak, kakak buka ya ?,,,,
Berat sungguh kakak untuk membuka, disaat adik bersimbah darah, tak lama berselang,
perlahan kakak membuka bungkusan itu; bungkusan berisi Sapu Tangan dan
Secarik Surat didalamnya; lalu kakak membaca Isi Surat itu;
"Kak, ade ingin sekali mengusap keringat yang membasahi kening atau wajah kakak,
 ade selalu melihat kelelahan dan keletihan kakak, makanya ade belikan Sapu Tangan buat kakak,
 maafin ade yang kak karena hanya ini yang bisa ade kasih, ade sayang sekali sama kakak,
 maafin ade ya kak kalau punya salah sama kakak"
 Perlahan mata ade terpejam dengan raut wajah penuh senyum meronah ,,,,
"Dengan sekuat tenaga kau kan kujaga"
"De Sayang bangat sama Kakak"
"Moga Kakak Ikhlas Menerimanya"
"Maafin Kakak Yang Tak Kuasa Menjaga"

"Bertemu, Tanpa Kau Tahu Namaku"

(Sore hari di suatu tempat yang jauh dari keramaian, ada sebuah mobil beserta pemiliknya,
mobil tersebut mogok lantaran ada masalah dibagian mesinnya, sang pemilik tidak tahu
cara untuk memperbaikinya, dari kejauhan ada seorang anak kecil yang berjalan
kearah mobil yang mogok itu).
Anak Kecil : "Assalamu'alaikum,Wr,Wb,,,, (ucapan hangat dari anak kecil untuk bapak itu)
Bapak       : "Wa'alaikum Salam,Wr,Wb,,,, (sahut si bapak)
Anak Kecil : "mobilnya kenapa, pak ?,,,,
Bapak       : "ini, ada masalah dibagian mesinnya, bapak tidak tahu cara membetulkannya,
                    ade bisa bantu memperbaikinya ?,,,,
(Dengan hangat anak kecil itu menjawab pertanyaan si bapak)
Anak Kecil : "Insya Allah bisa pak,,,,
Bapak       : "kalau begitu, coba ade cek mesin mobil bapak,,,,
Sesaat kemudian, anak kecil itu langsung mengecek mesin mobil si bapak,
diam - diam si bapak memperhatikan; ucapnya dalam hati; "kok, bisa ya anak sekecil itu
faham tentang mesin mobil ?, apa dia mempunyai usaha bengkel ?,
atau mungkin dia belajar dengan tekunnya mengenai mesin - mesin ?, hmm",,,,
(si bapak yang masih terselubung rasa keheranan),,,,
Anak Kecil : "Alhmdulillah, sudah selesai pak, coba bapak nyalakan mobilnya !,,,,
brem,,,, brem,,,, brem,,,, (bunyi mesin mobil seperti sediakala)
Bapak       : "ini uang buat ade karena telah membetulkan mesin mobil saya,,,,
Anak Kecil : "tidak usah pak, saya Ikhlas membantu bapak,,,,
Makin bertambah keheranan bapak kepada anak itu; "Subhanallah, begitu mulianya anak ini,
sampai dalam hal menolong, nilai rupiah pun diabaikannya",,,,
Bapak       : "kalau begitu, biar bapak antar ade sampai rumah ?,,,,
Anak Kecil : "tidak usah pak, tidak apa - apa, rumah saya tidak jauh dari sini,
                    hari sudah semakin sore, alangkah baik jika bapak sudah sampai di rumah,
                    sekali lagi saya minta maaf pak, bukan maksud hati saya menolak pemberian bapak,
                    tapi ibu saya pernah berpesan; "Utamakanlah Keikhlasan dalam Sebuah Pertolongan",,,,
Lebih dalam Keheranan bapak kepada anak itu; "Subhanallah, begitu bahagianya orang tua
yang dikaruniakan anak seperti dia, sungguh beruntungnya",,,,
(Dalam Senyuman ^_^, mereka terpisah sesaat tanpa saling bertanya nama),,,,
(Selang seminggu setelah pertemuan itu si bapak bermaksud menemui anak itu,
dicari alamat lalu berusaha dia hafali wajah ana itu, karena si bapak tidak tahu nama anak itu,
perlahan - lahan si bapak menyusuri daerah tempat tinggal anak itu yang katanya
tidak jauh dari tempat mereka dulu bertemu)
Bapak      : "andai waktu itu aku tahu nama mu, mungkin tak sesulit ini aku menemui mu,,,,
(ada banyak kerumunan orang - orang di suatu rumah; "apa itu rumah si ade kecil ?,
bertanya si bapak dalam hatinya")
Karena sebuah tekad untuk bertemu, dan rasa ingin tahu, akhirnya si bapak mendatangi rumah itu,
betapa terkejutnya si bapak; "ini kan foto anak kecil yang menolong ku waktu itu, lalu siapa orang
yang berada dalam pembaringan itu ? (dalam tanya membelenggu),,,,
Bapak      : "kalau boleh tahu, siapa orang yang meninggal itu bu ?,,,,
Ibu Anak Itu : "dia Rahman anakku, kasih sayangku, kebanggaanku,,,,
Bapak      : "boleh saya membukan selendang yang menutupi wajahnya ?,,,,
Ibu Anak Itu : "silakan pak,,,, (dengan air mata membasahi pipi ^_~,,,,)
(betapa terkejutnya si bapa, ternyata anak yang bersemayam dalam pembaringan itu
adalah anak yang menolongnya dikala itu)
Bapak      : "Inalillahi Wa'ina Ilaihi Rajiun", "Kau dulu menolongku, Kau dulu membantuku,
                   kini kau ada di hadapanku, tapi kau terbujur kaku, kni aku tahu namamu,
                   tanpa kau tahu namaku, maafkanlah aku"
"Senja Waktu disaat Kau dan Aku Bertemu"
"Indah Nian Akhlagmu bak Mutiara Menyatu"
"Dalam Pencarian Untuk Bertemu Denganmu"
"Moga Allah Ridho Terhadapmu"